Jangan Hubungi Saya Hanya Saat Butuh
Tadi pagi sepeda motor saya mogok di tengah jalan. Saya tidak tahu apa yang rusak. Yang saya tahu, ketika saya mencoba menyalakannya beberapa kali, Karisma saya sepertinya sedang tidak ingin jalan bareng saya, mungkin lelah.
Akhirnya saya menumpang bentor (becak motor).
Di tengah kerumunan pasar Rabuan Prenduan, akhirnya jalanan macet. Bentor yang saya tumpangi pun ikut berhenti, tepat di belakang bus mini.
Di kaca belakang bus mini itu, ada tulisan kecil menarik, “Jangan hubungi saya hanya saat kamu butuh, Saya bukan Tuhan.”
Saya nyengir melihat tulisan itu. Kalimat itu sederhana. Sedikit menyebalkan. Tetapi juga lucu. Saya kemudian tersindir sendiri. Sebab ternyata saya juga sering melakukan hal yang sama.
Saya memiliki teman yang sudah lama tidak saya hubungi. Bukan karena saya membencinya. Sepertinya karena saya memang belum punya kepentingan untuk menghubunginya.
Sampai suatu hari saya membutuhkan sesuatu. Barulah nama teman itu muncul di kepala saya.
Saya buka WhatsApp. Saya lihat foto profilnya. Saya mengetik, “Assalamu’alaikum, bagaimana kabarnya?”
Padahal kalau jujur, yang sebenarnya ingin saya tanyakan bukan kabarnya. Saya ingin bertanya sesuatu dan meminta bantuan.
Tetapi saya memulainya dengan pertanyaan, “Bagaimana kabarnya?”
Mungkin itu cara manusia menyamarkan kepentingan agar terdengar seperti perhatian.
Teman atau nomor darurat?
Saya kemudian berpikir, jangan-jangan selama ini ada orang-orang yang saya anggap teman hanya karena mereka berguna bagi saya.
Ketika saya membutuhkan sesuatu, saya ingat. Ketika tidak membutuhkan apa-apa, saya lupa.
Saya tidak pernah menghubungi mereka hanya untuk bertanya apakah hidupnya sedang baik-baik saja. Tidak pernah bertanya apakah anaknya sehat. Saya juga tidak pernah bertanya apakah pekerjaannya sedang menyenangkan atau justru membuatnya ingin berhenti.
Tetapi ketika saya membutuhkan sesuatu, tiba-tiba saya menjadi orang yang sepertinya tidak pernah melupakannya.
“Bagaimana kabarmu? Kapan kita ngopi?”
Kalimat-kalimat semacam itu bisa terdengar sangat hangat kalau tidak diketahui bahwa beberapa detik kemudian saya akan mengatakan, “Oh iya, Bro. Saya mau minta tolong, bisa nggak?”
Saya jadi berpikir, mungkin ada perbedaan antara mencari teman dan mencari orang yang bisa membantu. Keduanya memang bisa bertemu dalam satu orang. Tetapi bukan berarti sama.
Bukahkah seorang teman tidak seharusnya menjadi nomor darurat. Ia bukan nomor yang baru dicari ketika kita sedang kesulitan. Memang benar, Khairul-aṣḥābi ‘indallāhi khairuhum liṣāḥibihi (Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya). Tetapi bukan berarti ia hanya dicari saat darurat.
Saya bukan Tuhan
Tulisan di belakang bus mini itu sebenarnya sederhana. “Saya bukan Tuhan.” Bagian akhir itu yang paling mengganggu saya. Sebab Tuhan memang berbeda.
Saya datang kepada-Nya ketika membutuhkan sesuatu. Ketika sakit, datang dengan berdoa sangat dekat. Ketika kehilangan, memohon kekuatan. Ketika tidak tahu harus meminta kepada siapa, barulah mencari-Nya.
Dan Tuhan tidak pernah mengatakan, “Kamu kok datang kalau ada perlunya saja?”
Manusia tidak demikian. Manusia bisa bertanya-tanya, “Mengapa dia hanya menghubungi saya kalau membutuhkan sesuatu?”
Mungkin karena itu tulisan di belakang bus mini tersebut terasa lucu sekaligus menampar.
Kita sering memperlakukan teman seperti tempat terakhir untuk meminta pertolongan. Bahkan, kita kadang menjadikan kebutuhan sebagai satu-satunya alasan untuk mengingatnya.
Hubungan yang tidak punya kepentingan
Saya kemudian teringat beberapa teman lama. Ada yang dulu hampir setiap hari saya temui. Sekarang nomor teleponnya masih tersimpan di akun google, tetapi percakapannya kami sudah lama berhenti.
Bukan karena ada masalah. Hanya sajaj kehidupan terus berubah.
Masing-masing sibuk. Masing-masing memiliki pekerjaan. Masing-masing memiliki urusan yang harus diselesaikan.
Tetapi mungkin hubungan tidak selalu harus menunggu sebuah kebutuhan untuk dihidupkan kembali. Kadang kita hanya perlu mengirim pesan.
“Bagaimana kabarmu?” Selesai.
Tidak perlu menunggu ada kepentingan yang dimulai dengan, “Oh iya, saya mau minta tolong Bro…”
Mungkin justru di situlah kita bisa mengetahui apakah sebuah hubungan memang hubungan atau hanya hubungan yang kebetulan sedang berguna.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa meminta pertolongan kepada teman itu salah. Bukankah teman memang salah satu tempat kita meminta pertolongan?
Yang mungkin keliru adalah ketika kita hanya mengenal seseorang ketika kita membutuhkan pertolongannya.
Sebab hubungan yang sehat mungkin adalah seseorang yang tetap diingat ketika sedang tidak membutuhkan apa-apa.
Setelah turun dari bentor
Bentor akhirnya kembali berjalan.
Saya tidak tahu siapa pemilik bus mini itu. Saya juga tidak tahu apakah tulisan di belakangnya benar-benar pengalaman pribadi pemiliknya atau hanya tulisan yang ia temukan lalu ditempel di sana.
Tetapi pagi itu ia seperti sedang berbicara kepada saya. Saya turun dari bentor dengan membawa satu kesadaran kecil. Mungkin ada beberapa orang yang perlu saya hubungi. Bukan karena saya membutuhkan mereka.
Saya tersenyum lagi mengingat tulisan bus mini itu. Kali ini bukan karena lucu. Karena saya tahu, ada beberapa orang yang sebenarnya sedang saya perlakukan seperti itu.
Wallahu a’lam.
Apakah artikel ini bermanfaat?
Bagikan Artikel
Komentar (0)
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!