Kesulitan Tidak Selalu Mendidik
“Orang yang tidak pernah sulit tak bisa jadi pemimpin.”
Saya menemukan kalimat itu dari situs “tempo.co” yang menyebutnya sebagai ucapan Prabowo. Saya tidak tahu persis dalam konteks apa kalimat itu disampaikan. Tetapi benarkah orang yang tidak pernah mengalami kesulitan tidak bisa menjadi pemimpin?
Saya bisa memahami maksud kalimat itu. Kesulitan memang bisa membuat seseorang menjadi tangguh. Orang yang pernah jatuh biasanya tahu bagaimana caranya bangkit. Jika pernah berada di posisi paling bawah mungkin lebih mudah memahami orang yang berada di bawahnya.
Tetapi saya kemudian berpikir, apakah kesulitan selalu menghasilkan manusia yang tangguh? Bukankah kesulitan juga bisa menghasilkan manusia pengecut?
Sepertinya tidak sedikit juga orang yang terlalu sering hidup dalam kesulitan malah belajar bagaimana caranya menyelamatkan diri sendiri, dan kalau menyelamatkan diri sendiri menjadi satu-satunya tujuan, seseorang bisa saja belajar menjadi licik.
Maka saya mulai curiga pada kalimat yang terlalu mudah membuat kesulitan terlihat sebagai sekolah kehidupan. Kesulitan memang bisa menjadi guru. Tetapi seperti sekolah pada umumnya, muridnya belum tentu lulus dengan pelajaran yang sama.
Ada orang yang setelah mengalami kesulitan menjadi kuat. Tetapi ada juga yang menjadi pendendam. Bahkan beberapa orang setelah lama hidup susah, ketika memperoleh kesempatan berkuasa justru ingin memastikan tidak ada lagi orang yang bisa membuatnya merasa kecil.
Mungkin karena itu saya teringat sebuah kalimat Roem Topatimasang yang saya baca pada sampul belakang buku “Sekolah Itu Candu.” Kalimatnya kira-kira begini: “Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat.”
Saya menyukai kalimat itu karena ia tidak memberi kita kesempatan untuk terlalu cepat percaya kepada sekolah. Sekolah memang bisa membuat seseorang pintar. Tetapi kepintaran tidak selalu membuat seseorang baik.
Sekolah bisa membuat seseorang menjadi pejabat. Tetapi sekolah juga bisa menghasilkan orang yang menggunakan jabatannya untuk menindas orang lain.
Pengetahuan bisa dipakai untuk menyembuhkan. Bisa juga dipakai untuk mematikan.
Kesulitan pun mungkin demikian. Ia bisa membuat seseorang kuat. Tetapi kekuatan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi kekerasan.
Kesulitan sebagai sekolah
Saya sering mendengar orang berkata bahwa hidup yang terlalu mudah tidak akan menghasilkan manusia yang kuat.
Mungkin benar.
Anak yang selalu dibantu mungkin tidak belajar berdiri sendiri. Orang yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan mungkin tidak belajar menerima penolakan. Orang yang tidak pernah kehilangan mungkin tidak tahu bagaimana menghargai sesuatu yang dimilikinya.
Hanya saja, itu romantisme dalam memandang kesulitan.
Kita mengira semua orang yang susah akan menjadi bijaksana. Padahal tidak.
Ada orang yang menjadi bijaksana karena pernah susah. Ada juga orang yang justru menjadi keras kepala karena pernah susah.
Ada orang yang ketika dulu diperlakukan tidak adil berjanji tidak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Tetapi ketika mendapatkan kesempatan untuk berkuasa, ia mengulanginya dengan caranya sendiri.
Mungkin manusia memang memiliki kemampuan yang aneh. Kita bisa membenci sesuatu ketika menjadi korban, lalu melakukan hal yang sama ketika menjadi pelaku. Ah saya jadi teringat Homi K. Bhabha. Hal ini tidak perlu saya bahas dulu.
Karena itu, kesulitan tidak otomatis mendidik. Yang mendidik mungkin bukan kesulitannya. Tetapi bagaimana kita mempelajari dan mengolah kesulitan itu.
Dua orang bisa mengalami kemiskinan yang sama. Yang satu belajar berbagi. Yang lain belajar menimbun.
Dua orang bisa sama-sama dipermalukan. Yang satu belajar menghargai martabat orang lain. Yang lain belajar mencari kesempatan untuk mempermalukan balik.
Dua orang bisa sama-sama pernah berada di bawah. Yang satu ketika naik tetap ingat bagaimana rasanya berada di bawah. Yang lain ketika naik justru ingin membuat semua orang merasakan apa yang dulu ia rasakan.
Pemimpin yang pernah susah
Lalu saya kembali kepada kalimat awal tadi. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan kalimat ini “Orang yang tidak pernah sulit tak bisa jadi pemimpin.”
Saya lebih percaya bahwa pemimpin tidak harus orang yang pernah mengalami semua kesulitan. Ia harus memiliki kemampuan untuk memahami kesulitan orang lain.
Sebab tidak mungkin seorang pemimpin mengalami seluruh penderitaan yang dialami orang-orang yang dipimpinnya. Ia mungkin tidak pernah kelaparan. Ia mungkin tidak pernah kehilangan pekerjaan. Tetapi bisa saja ia belajar mendengarkan dan merasakan dari orang yang mengalaminya.
Dan mungkin di situlah kepemimpinan yang sebenarnya, mendengarkan dan merasakan.
Setiap kesulitan yang pernah dialami seorang pemimpin tidak bisa secara otomatis menjadi kepedulian, jika kesulitan itu tidak mampu mengusik kenyamanannya untuk berempati. Dan empati tidak selalu lahir dari penderitaan pribadi. Kadang ia lahir dari kesediaan untuk melihat penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang juga penting bagi dirinya.
Pada akhirnya, orang yang pernah susah masih harus memilih, apakah ia ingin menggunakan kesulitannya untuk memahami orang lain, atau menjadikannya alasan untuk mengamankan dirinya sendiri. Sebagaimana penguasa, ia juga harus memilih apakah ia ingin menggunakan kekuasaannya untuk melindungi orang lain, atau akhirnya menjadi orang yang dulu ia benci.
Dan mungkin begitu pula dengan saya.
Saya tidak tahu apakah saya akan menjadi pemimpin yang baik kalau suatu hari diberi kesempatan memimpin. Saya juga tidak tahu apakah semua kesulitan yang pernah saya alami akan otomatis membuat saya lebih bijaksana.
Sebab mungkin kesulitan tidak pernah memberikan sertifikat kelulusan. Ia hanya memberikan soal.
Kita sendiri yang menulis jawabannya lewat jabatan yang saya miliki.
Dan sayangnya, seperti sekolah pada umumnya, tidak semua orang yang pernah belajar akhirnya menjadi orang yang benar-benar terdidik.
Wallahu a’lam.
Apakah artikel ini bermanfaat?
Bagikan Artikel
Komentar (0)
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!