Ketika Rayap Lebih Rajin Menghabiskan Buku
Belakangan saya suka membeli buku. Kalau dihitung-hitung, dalam sebulan saya bisa menghabiskan lebih dari lima ratus ribu rupiah hanya untuk membeli buku. Ada yang saya beli karena judulnya menarik. Kadang saya membelinya karena nama penulisnya. Ada juga yang saya beli hanya karena melihat sampulnya yang estetik.
Masalahnya, memiliki buku dan membaca buku ternyata dua perkara yang berbeda.
Buku-buku itu menumpuk di rak. Sebagian saya baca sampai selesai. Sebagian baru sampai bab pertama. Sebagian lagi bahkan belum sempat saya buka plastiknya.
Sampai suatu hari saya ingin mencari sebuah buku “How to Read a Book”. Buku itu saya cari karena saya ingin memulai yang kemarin saya rencanakan di Ma’had Universitas Al-Amien Prenduan, diskusi buku.
Saya mencarinya di antara buku-buku tempat kerja saya. Saya tarik satu per satu. Saya lihat judulnya. Saya ingat pernah membelinya. Pernah saya bawa dan saya kenalkan ke mahasiswa magister.
Lalu saya melihat sesuatu yang bergerak. Rayap. Ia rupanya sudah lebih dahulu menemukan buku itu. Satu buku hampir habis dimakannya.
Saya memandangi buku itu cukup lama. Hati saya benar-benar sulit dijelaskan. Saya sangat menyukai buku itu. Bab pertamanya saja sudah membuat saya jatuh hati. Lalu saya letakkan di atas meja kerja.
Tetapi ternyata ada makhluk yang tidak pernah membeli buku itu, tidak pernah membacanya, tidak pernah tahu siapa penulisnya, namun justru lebih tekun, sehingga hampir separuh buku itu habis dimakannya.
Rayap ternyata membaca dengan cara yang sangat berbeda dari saya.
Ia tidak membutuhkan sinopsis. Ia tidak membutuhkan rekomendasi. Tidak perlu menunggu waktu luang. Tidak perlu menyimpan buku itu dalam daftar to be read.
Ia datang, lalu menghabiskannya, pelan tapi pasti.
Saya justru membeli, menyimpan, lalu lupa.
Sejak peristiwa itu saya berpikir. Jangan-jangan selama ini masalah saya bukan kekurangan buku. Masalah saya adalah kelebihan buku dan kekurangan membaca.
Lalu, apa artinya semua buku itu bagi saya?
Membaca bukan memindahkan kata
Saya kemudian teringat bahwa membaca buku sesungguhnya bukan pekerjaan memindahkan kata dari halaman ke kepala.
Buku yang baik menuntut pembacanya bekerja.
Kita harus mengetahui apa yang sedang dikatakan penulis. Kita harus menemukan bagaimana ia sampai pada kesimpulannya. Membandingkan gagasannya dengan pengetahuan yang sudah kita miliki. Bahkan, harusnya sampai berani bertanya apakah ia benar.
Dengan kata lain, membaca adalah percakapan. Penulis berbicara melalui buku. Pembaca menjawab melalui pikirannya.
Itulah sebabnya membaca sebuah buku yang serius kadang melelahkan. Ada bagian yang harus dibaca ulang. Kadang harus berhenti karena kalimat yang terasa nendang. Ada gagasan yang membuat kita tidak setuju.
Membaca dalam pengertian seperti itu tidak sama dengan melihat informasi. Melihat informasi membuat kita tahu. Membaca membuat kita berpikir. Dan berpikir membutuhkan waktu.
Mungkin itu sebabnya buku terasa semakin asing di zaman sekarang. Buku seringkali meminta pembacanya duduk bercakap. Meminta kita diam merenung. Merunut alur pikir buku, dari awal sampai akhir.
Aneh, karena saat ini, gawai mengajari kita fakta sebaliknya. Geser, lihat, lewatkan.
Fakta yang tidak menjadi pengalaman
Saya sering membayangkan berapa banyak fakta yang sudah masuk ke kepala saya selama beberapa tahun terakhir.
Saya tahu berita tentang orang yang tidak saya kenal. Saya tahu peristiwa yang terjadi di tempat yang tidak pernah saya datangi. Saya tahu pendapat orang tentang berbagai persoalan yang bahkan belum selesai saya pikirkan.
Tetapi mungkin ada sesuatu yang hilang. “Pengalaman.”
Sebab mengetahui bahwa sesuatu terjadi tidak sama dengan mengalami makna dari sesuatu yang terjadi.
Saya tahu seseorang gagal. Tetapi apakah saya belajar tentang kegagalan?
Saya tahu seseorang jatuh. Tetapi apakah saya belajar bagaimana seharusnya bangkit?
Saya tahu orang lain melakukan kesalahan. Tetapi apakah saya menjadi lebih hati-hati terhadap kesalahan saya sendiri?
Itulah mungkin alasannya informasi-informasi yang terus berdatangan lewat gawai tidak otomatis membuat kita kaya pelajaran.
Kita memiliki banyak data tentang kebahagiaan, tetapi belum tentu kita menjadi bahagia. Kita memiliki informasi tentang kesehatan, tetapi belum tentu kita mau menjalani pola hidup sehat.
Jangan sampai rayap lebih tekun
Saya kemudian kembali melihat rak buku.
Ada buku yang sudah bertahun-tahun saya miliki. Saya membelinya dengan niat baik. Tetapi niat baik ternyata bukan ukuran kehidupan yang baik.
Sebuah buku tidak menjadi berarti hanya karena ia berada di rumah kita. Sebagaimana pengetahuan tidak menjadi berarti hanya karena berada di kepala kita.
Buku yang dibaca seharusnya menjadi pengetahuan yang direnungkan. Dan renungan, pada akhirnya, semestinya mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Saya membayangkan buku yang hampir habis dimakan rayap itu. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan dari pemandangan itu. Saya membeli buku untuk mendapatkan pengetahuan. Rayap memakannya untuk mendapatkan kehidupan.
Saya tidak tahu apakah rayap itu memiliki filsafat tentang membaca. Tetapi ia setidaknya tidak memiliki masalah yang sering saya miliki, membeli sesuatu dengan niat menggunakannya, lalu menundanya sampai rayap diam-diam menghabiskannya.
Mungkin saya harus mulai membaca lagi. Bukan untuk memperbanyak bacaan. Saya harus membaca lebih dalam. Tidak mengejar jumlah buku yang harus selesai. Bukan juga berbangga karena rak buku saya penuh.
Saya hanya ingin, setiap kali selesai membaca, ada sesuatu dalam diri saya yang ikut selesai. Sebuah kesombongan, sebuah prasangka, sebuah ketidaktahuan, atau mungkin sebuah cara lama dalam melihat kehidupan.
Mungkin, kalau saya hanya membiarkan pengetahuan dalam buku berpindah ke dalam otak saya, tidak ada bedanya antara saya dan rayap yang memindahkan kertas buku itu ke perutnya.
Sama-sama pernah ada. Sama-sama berusaha memiliki. Tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari hidup saya dan rayap itu. Wallahu a’lam.
Apakah artikel ini bermanfaat?
Bagikan Artikel
Komentar (0)
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!