Ketika Santri Mandiri, Mengapa Kesantriannya Dipertanyakan?
Artikel 1 menit baca

Ketika Santri Mandiri, Mengapa Kesantriannya Dipertanyakan?

Admin Ma'had Al-Jami'ah UNIA

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang santri yang sebentar lagi menyelesaikan masa belajarnya di pesantren.

Seperti biasa, saya bertanya, “Setelah lulus nanti mau ke mana?”

Ia kemudian menjelaskan rencananya cukup panjang. Ia ingin melanjutkan kuliah. Sambil kuliah, ia ingin bekerja. Kalau ada kesempatan, ia ingin membuka usaha kecil-kecilan. Ia ingin belajar mengelola uang sendiri. Ia ingin memiliki penghasilan. Bahkan, ia sudah membayangkan suatu hari nanti bisa membangun sesuatu yang dapat menjadi sumber penghidupan bagi dirinya dan keluarganya.

Saya rasa tidak ada yang aneh dari rencana itu. Justru menurut saya, itu adalah rencana yang cukup matang dari seorang anak muda yang mulai memikirkan kehidupannya. Tetapi saya berpikir hal lain “Mengapa ketika seorang santri mulai berbicara tentang masa depannya, kadang-kadang orang lain justru merasa ia sedang meninggalkan kesantriannya?”

Seolah-olah ketika ia berbicara tentang pekerjaan, bisnis, karier, penghasilan, atau kehidupan yang lebih mapan, ada sesuatu dari dirinya yang mulai tidak lagi “santri”.

Padahal, bukankah selama di pesantren ia justru diajarkan untuk mandiri?

Mandiri yang sering disalahpahami

Pesantren mengajarkan banyak hal, kita diajarkan bangun sendiri, mengatur waktu sendiri, mencuci sendiri, menjaga barang sendiri, bertanggung jawab terhadap tugas sendiri.

Pelan-pelan ia belajar bahwa tidak semua persoalan dalam hidup akan diselesaikan oleh orang lain. Ada saatnya ia harus berdiri dengan kakinya sendiri, ada saatnya ia harus mengambil keputusan sendiri, ada saatnya ia harus mampu bertahan ketika tidak ada lagi ustadz yang setiap hari mengingatkan.

Mungkin kita sering lupa bahwa semua itu sebenarnya adalah latihan menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Bukankah pesantren tempat yang dibuat agar santri selamanya tinggal di dalamnya. Santri pada akhirnya akan pulang, akan bertemu masyarakat, akan mencari pekerjaan, akan membangun keluarga, akan menghadapi persoalan ekonomi, akan berhadapan dengan dunia yang tidak sesederhana lingkungan pesantren. Dan pada saat itulah kemandirian yang selama ini dilatih mendapatkan tempat untuk diuji.

Lalu mengapa cita-cita menjadi persoalan?

Saya kadang bertanya-tanya. Mengapa ketika seorang santri mengatakan ingin menjadi guru, kita merasa senang? Ketika ia mengatakan ingin menjadi ustadz, kita bangga. Ketika ia ingin melanjutkan pendidikan agama, kita merasa itulah jalan yang paling sesuai dengan kesantriannya.

Tetapi ketika ia mengatakan ingin menjadi pengusaha, dokter, programmer, pegawai profesional, content creator, arsitek, atau profesi lainnya, kita mulai bertanya: “Kesantriannya nanti bagaimana?”

Pertanyaan itu sebenarnya tidak salah. Yang mungkin perlu kita koreksi adalah cara kita memahaminya. Apakah menjadi santri hanya memiliki satu bentuk kehidupan? Apakah kesantrian harus selalu terlihat dari profesinya? Apakah seseorang harus bekerja di lingkungan pesantren agar tetap dianggap santri?

Atau jangan-jangan kita selama ini terlalu sibuk menjaga label santri, tetapi lupa menanamkan nilai-nilai kesantrian?

Santri tidak harus meninggalkan dunia

Pesantren tidak mengajarkan santri untuk membenci dunia. Pesantren mengajarkan bagaimana menempatkan dunia. Santri boleh memiliki uang. Bahkan, ia perlu belajar bagaimana mendapatkan, mengelola, dan menggunakan uang dengan benar.

Santri boleh memiliki karier. Tetapi karier itu jangan sampai membuatnya kehilangan kejujuran. Santri boleh menjadi pengusaha. Tetapi keuntungan tidak boleh membuatnya kehilangan amanah. Santri boleh masuk ke dunia teknologi. Tetapi teknologi tidak seharusnya membuatnya kehilangan adab. Santri boleh menjadi siapa saja. Yang tidak boleh hilang adalah siapa dirinya.

Sebab mungkin persoalannya bukan apakah santri masuk ke dunia modern atau tidak. Persoalannya adalah: Ketika santri masuk ke dunia modern, apakah nilai-nilai yang dibawanya masih tetap hidup?

Pesantren bukan tempat untuk melarikan diri dari kehidupan

Saya kira kita perlu mengubah cara pandang. Pesantren bukan tempat untuk menjauhkan santri dari kehidupan. Pesantren justru tempat untuk mempersiapkan santri menghadapi kehidupan.

Kalau selama bertahun-tahun santri diajarkan disiplin, mungkin agar kelak ia mampu mendisiplinkan dirinya ketika tidak ada yang mengawasi. Kalau ia diajarkan kejujuran, mungkin agar kelak ia tetap jujur ketika kesempatan untuk berbohong terbuka lebar. Kalau ia diajarkan kesederhanaan, mungkin agar kelak ketika memiliki banyak harta ia tidak diperbudak oleh hartanya. Kalau ia diajarkan tanggung jawab, mungkin agar kelak ketika memegang amanah yang lebih besar ia tidak mudah mengkhianatinya. Dan kalau ia diajarkan mandiri, mungkin agar kelak ketika keluar dari pesantren ia tidak takut menghadapi kehidupan.

Jangan sampai kita salah mengukur kesantrian

Mungkin kita perlu berhenti mengukur kesantrian seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan. Sebab Santri yang bekerja di kantor belum tentu kehilangan kesantriannya, Santri yang menjadi pengusaha belum tentu meninggalkan pesantrennya. Santri yang mengenal teknologi belum tentu melupakan adabnya.

Bukankah santri yang memiliki cita-cita duniawi belum tentu kehilangan orientasi akhiratnya. Sebaliknya, seseorang bisa saja terlihat sangat “santri”, tetapi nilai-nilai kesantrian itu belum tentu benar-benar hidup dalam dirinya.

Pada akhirnya, kesantrian bukan sekadar tempat seseorang pernah belajar. Kesantrian adalah nilai yang seharusnya ikut berjalan bersamanya.

Ke mana pun ia pergi, apa pun profesinya, setinggi apa pun kariernya, dan sebanyak apa pun hartanya. Mungkin justru di sinilah ujian sebenarnya. Selama di pesantren, menjadi baik mungkin relatif mudah karena ada jadwal, ada aturan, ada ustadz, ada pengurus, ada teman yang mengingatkan, dan ada lingkungan yang mendukung.

Tetapi setelah pulang? Tidak ada lagi yang membangunkan. Tidak ada lagi yang memeriksa apakah ia hadir berjamaah. Tidak ada lagi yang mengingatkan bagaimana ia menggunakan waktunya. Tidak ada lagi pagar yang sama. 

Di situlah nilai-nilai yang dulu diajarkan mulai diuji. Mungkin lulus dari pesantren bukan berarti selesai menjadi santri. Justru setelah keluar dari pesantren, seseorang baru mulai menunjukkan apakah pendidikan pesantren benar-benar telah menjadi bagian dari dirinya. Karena pesantren pada akhirnya tidak hanya ingin melahirkan orang yang mampu hidup di dalam pesantren. Pesantren ingin melahirkan manusia yang mampu hidup di tengah masyarakat tanpa kehilangan arah.

Dan mungkin inilah makna sebenarnya dari kemandirian. Diajari untuk berdiri sendiri, bukan untuk berjalan tanpa nilai. Diajari untuk menghadapi dunia, bukan untuk menjadi bagian dari segala sesuatu yang ada di dalamnya. Diajari bertahan hidup, tetapi tidak diajari kehilangan jati diri.

Wallahu a'lam.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel

Komentar (0)

Minimal 2 karakter 0/1000

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!