Pada Mulanya Memang Berat
Kolom 3 menit baca

Pada Mulanya Memang Berat

Admin Ma'had Al-Jami'ah UNIA

Oleh. Ach. Nurholis Majid

Pada mulanya memang berat. Hampir tidak ada kebiasaan baik yang lahir tanpa rasa berat. Belajar, menghafal, menulis, bangun sebelum fajar, bahkan sekadar mengulang pelajaran. Semua memerlukan keberanian memulai, walaupun berat. 

Kita sering salah memahami kata “berat” dalam belajar. Selama ini, kita mengira berat adalah ancaman yang harus dihindari. Padahal, hampir semua yang bernilai dalam hidup seringkali dimulai dari kata “berat”.

Dalam hidup, kita seringkali menemui kegagalan—sesuatu yang “berat”—tetapi kita terus mengulangi usaha hingga memperoleh keberhasilan.  Seorang anak tidak langsung pandai berlari. Ia melalui proses yang sangat “berat”. Jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Tak seorang pun menyebut jatuh yang “berat” itu sebagai kegagalan. Kita menyebutnya proses belajar.

Tetapi ketika giliran diri kita yang harus belajar, rasa ingin cepat pandai malah menghantui kita. Kadang, kita ingin membaca tanpa merasa lelah, memahami buku tanpa mengulangi bacaan. Hasilnya, tumbuh mental ingin berhasil tanpa susah payah.

Barangkali, yang keliru bukan rasa beratnya. Pemaknaan atas kata beratlah yang perlu diubah. Kita terlalu lama percaya bahwa yang ringan selalu membawa kebahagiaan, sementara yang berat selalu identik dengan penderitaan. Hidup ternyata tidak sesederhana itu.

Begitu pula "ringan" dan "berat". Kita menempatkan yang ringan sebagai kebaikan. Yang berat sebagai keburukan. Padahal, tidak selalu demikian, bukan?

Bukankah shalat subuh terasa berat bagi sebagian orang, tetapi sebagian orang, justru merasa bahwa shalat subuh itu adalah kenikmatan terdekat dengan Tuhan. Bukankah membaca kitab berjam-jam juga melelahkan, tetapi dari proses membaca itu seseorang memiliki keluasan pandangan.

Mungkin berat bukan lawan dari bahagia. Ia adalah jalannya. Para ulama telah lama memahami hal itu. Imam Yahya bin Abi Katsir berkata, "Ilmu tidak dapat diraih dengan tubuh yang dimanjakan."

Kalimat itu sederhana, bahwa ilmu tidak meminta kita menjadi jenius. Ilmu hanya meminta kita datang. Hari ini. Besok. Lusa. Lalu datang lagi. Sebab, seperti cinta, ilmu tumbuh dari perjumpaan yang berulang. Itulah yang kita sebut kebiasaan.

Pada mulanya, kebiasaan terasa seperti paksaan. Jam belajar bisa menjadi terasa sangat panjang jika dibandingkan dengan waktu bermain. Satu halaman buku bisa lebih terasa berat daripada satu jam scrolling layar telepon. 

Namun kebiasaan memiliki sifat yang aneh. Ia mengubah beban menjadi kebutuhan. Apa yang dahulu terasa asing, perlahan menjadi rumah. Hingga akhirnya, menemukan aha moment. Seseorang yang gembira sambil memekik “aha…!”

Saya biasanya menyebut aha moment ini sebagai hadiah bagi orang yang bertahan. Sebab pencerahan jarang datang kepada mereka yang tergesa-gesa. Ia lebih akrab dengan mereka yang tekun. 

Barangkali itulah yang dimaksud para ulama ketika mengatakan, “Man asyraqat bidāyatuhu asyraqat nihāyatuhu." Siapa yang awal perjalanannya bercahaya, maka akhir perjalanannya pun akan bercahaya.

Artinya, cahaya memang tidak pernah lahir untuk menghapus gelap. Ia justru terasa cahaya karena kita pernah melewati gelap. Demikian pula ilmu. Yang mula-mula terasa berat, lambat laun berubah menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan itulah keberkahan tumbuh.

Mungkin, yang disebut berkah bukan hanya terletak semata pada hasil belajar. Tetapi saat diri kita perlahan diubah oleh proses belajar itu sendiri. Sebab, pada akhirnya, ilmu bukan sekadar apa yang kita ketahui. Ilmu adalah apa yang perlahan-lahan mengubah cara kita memandang dunia.

Dan mungkin, keberkahan yang paling besar bukan ketika kita selesai membaca sebuah kitab. Melainkan ketika kitab itu, diam-diam, mampu menulis ulang diri kita. Wallahu a’lam.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel

Komentar (0)

Minimal 2 karakter 0/1000

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!