Pejuang Tidak Boleh Sakit
Oleh: Ach. Nurholis Majid
"Pejuang tidak boleh sakit." Kalimat itu saya dengar langsung dari seorang Kiai sewaktu dulu saya izin cuti karena sakit.
Sudah bertahun-tahun berlalu, entah mengapa kalimat sederhana itu selalu teringat saat saya menerima amanah baru. Ia terutama muncul ketika perjuangan terasa melelahkan. Lebih-lebih ketika pekerjaan seperti tak ada ujungnya. Kadang ia terdengar seperti perintah. Kadang seperti pengingat.
Dulu saya mengartikannya dengan sangat sederhana. Saya kira seorang pejuang memang tidak boleh sakit. Tidak boleh mengeluh. Tidak boleh tampak lemah.
Belakangan saya sadar, pemahaman saya tadi kurang tepat. Kesadaran itu muncul saat saya melihat sendiri kiai yang mengucapkan kalimat itu mengalami apa yang tidak pernah saya bayangkan.
Usia Kiai mengurangi tenaganya. Langkah beliau tak lagi setegap dahulu. Pada beberapa kesempatan beliau harus dipapah. Saya pernah melihat beliau meminta kursi rodanya dihentikan sebentar hanya untuk menyapa seorang santri yang lewat. Bahkan ketika rapat selesai, beliau masih sempat bertanya, "Bagaimana perkembangan santri baru?"
Dari situ, saya tahu bahwa, yang berubah dari beliau hanya cara berjalan beliau, semangat mengabdi beliau sama sekali tidak berubah.
Beliau masih datang paling awal untuk shalat jamaah. Masih ingin mendengar laporan satu per satu dari fungsionaris pesantren. Masih bertanya tentang santri. Masih memikirkan lembaga. Masih menyusun rencana-rencana yang bahkan orang muda pun kadang enggan memikirkannya.
Saya sering bertanya dalam hati, tenaga sebesar apa yang sedang bekerja di dalam diri beliau? Lama-kelamaan saya menemukan jawabannya. Yang membuat beliau tetap bergerak bukan lagi tenaga fisiknya, beliau digerakkan oleh amanah yang selalu dirasa belum selesai.
Apa yang saya dengar dan saya lihat itu membuat saya kembali memahami kalimat yang pernah beliau sampaikan. "Pejuang tidak boleh sakit." Kalimat itu rupanya tidak sedang berbicara tentang tubuh. Karena itulah saya kemudian menambahkan satu kalimat untuk diri saya sendiri. “Kalaupun fisik sakit, jangan sampai jiwa pejuang ikut sakit”
Sebagai manusia biasa, tubuh tentu mengenal usia. Tenaga akan berkurang seiring waktu, dan kesehatan tidak akan selalu sama. Namun saya melihat, ada sesuatu yang tidak ikut menua dalam diri beliau, yaitu semangat untuk mengabdi dan memberi.
Barangkali itu sebabnya para kiai mampu mengabdikan hampir seluruh hidupnya. Para Kiai tidak hanya merawat kesehatan badan, beliau merawat kesehatan niat. Beliau tidak sibuk memperpanjang usia, jika usia tidak beriringan dengan keberlimpahan manfaat.
Saat itulah saya memahami bahwa yang menggerakkan perjuangan adalah hati dan jiwa yang sehat.
Di pesantren, kami sering mendengar sabda Nabi bahwa Allah tidak melihat rupa dan tubuh manusia, melainkan hati dan amalnya (Inna Allāha lā yanẓuru ilā ṣuwarikum wa lā ilā ajsādikum, wa lākin yanẓuru ilā qulūbikum wa aʿmālikum). Barangkali semangat itulah yang saya lihat pada diri beliau.
Dari kalimat Kiai dan laku pengabdian beliau, saya belajar bahwa jiwa pejuang adalah jiwa yang tidak menggantungkan semangat pada keadaan. Pejuang tidak menunggu semuanya mudah untuk mulai bekerja. Tidak menunggu sehat sempurna untuk memberi manfaat. Tentu juga, tidak berhenti hanya karena keadaan berubah.
Karena itu, saya semakin percaya bahwa yang harus selalu dijaga adalah kesehatan jiwa pejuang. Badan yang sakit masih bisa diobati. Namun, jiwa yang kehilangan semangat akan membuat seseorang berhenti sebelum perjuangannya selesai.
Kini setiap kali mengingat kalimat di awal tulisan ini, saya tidak lagi membayangkan seorang pejuang yang tidak pernah sakit. Saya justru membayangkan seorang guru yang tetap datang ke masjid, tetap memimpin rapat, dan tetap memikirkan santri, meski harus didorong dengan kursi roda.
Mungkin itulah yang sedang dijaga para kiai sepanjang hidupnya. Bukan agar badannya selalu kuat, tetapi agar nyala pengabdiannya tidak pernah padam, hingga Allah memanggilnya pulang. Wallahu a’lam.
Apakah artikel ini bermanfaat?
Bagikan Artikel
Komentar (0)
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!