Saat Pengetahuan Belum Selesai
Kolom 3 menit baca

Saat Pengetahuan Belum Selesai

Admin Ma'had Al-Jami'ah UNIA

Oleh: Ach. Nurholis Majid

Mudir Ma'had Lil Banin, Universitas Al-Amien Prenduan 

Saat ini, kita tidak perlu menjadi orang yang benar-benar jahat, untuk tampak sangat jahat. 

Beberapa waktu lalu, seorang dokter memperlakukan seorang pasien peserta BPJS dengan cara yang kemudian ramai diperbincangkan. Tak perlu waktu lama, sebuah percakapan yang semula hanya terjadi di sebuah ruangan berpindah ke ruang penghakiman. 

Barangkali, sebelum sampai pada penghakiman, ada satu hal yang perlu kita pertanyakan kepada diri sendiri: seberapa utuh sebenarnya pengetahuan kita tentang sebuah peristiwa? Kita tidak berada di ruangan itu. Kita tidak mendengar seluruh percakapannya. Kita hanya menerima beberapa kalimat dan potongan video yang telah berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dari satu layar ke layar berikutnya. Namun, anehnya, potongan yang sedikit itu sering terasa cukup untuk membuat kita merasa telah mengetahui seluruh cerita.

Mungkin begitulah dunia digital bekerja. Ia memberi kita begitu banyak informasi, tetapi sekaligus menciptakan ilusi bahwa kita telah memahami. Kita melihat satu kalimat, lalu merasa mengenal seseorang. Kita menyaksikan satu peristiwa, lalu merasa mengetahui seluruh kisahnya.  

Saya tidak sedang membela siapapun. Ini hanya soal pengetahuan. Kita mempertanyakan pengetahuan si dokter, yang sangat paham tentang tubuh manusia, penyakit, kesehatan, dan penderitaan, tetapi pada suatu ketika gagal memahami perasaan seorang manusia yang sedang menderita.

Setidaknya, kita juga perlu mempertanyakan bagaimana bisa pengetahuan yang tak utuh berhak dijadikan dasar menghakimi?

Sebab dalam dunia kita sekarang, sebuah kalimat tidak lagi tinggal di tempat ia dilahirkan. Mula-mula dari mulut ke telinga. Dari telinga ke layar. Dari layar ke ribuan kepala yang tidak pernah mengenal siapa yang mengucapkannya. Dalam beberapa jam, kalimat itu dapat menjadi penghakiman yang jauh lebih abadi daripada niat orang yang mengucapkannya. Manusia dapat menghapus sebuah unggahan. Tetapi tidak selalu dapat menghapus akibat darinya.

Dari dua kondisi dokter dan netizen penghakimi, kita seakan diberi gambaran bahwa seringkali ada jarak antara tahu dan menjadi.

Jarak itu barangkali salah satu persoalan saat ini. 

Mungkin karena itu, sebuah nasihat dalam kitab Ta‘līm al-Muta‘allim menarik untuk kembali kita baca. Yanbaghī li-ṭālibi al-ʿilmi an yakhtāra min kulli ʿilmin aḥsanahu wa-mā yaḥtāju ilayhi fī amri dīnihi fī al-ḥāli, thumma mā yaḥtāju ilayhi fī al-maʾāli. 

Syaikh Burhān al-Dīn Ibrāhīm al-Zarnūjī al-Ḥanafī mengingatkan bahwa umur manusia terlalu pendek untuk mengetahui segala sesuatu. Tidak semua yang dapat diketahui harus diketahui. Tidak semua yang menarik harus dipelajari. Kita harus tahu, pengetahuan apa yang layak menemani hidup kita agar menjadi perjalanan terbaik. 

Seperti sebuah kapal, ilmu adalah kapal yang dapat mengantarkan seseorang ke suatu tujuan, tetapi ia tidak jalan sendiri, keinginan untuk mengendalikan harus dari si pemilik kapal. 

Karena itu, Ta‘līm al-Muta‘allim berbicara tentang al-hāl dan al-ma’āl. Apa yang dibutuhkan sekarang dan apa yang dibutuhkan kelak. Seorang mahasiswa membutuhkan ilmu tertentu. Ketika menjadi guru, kebutuhannya berubah. Ketika menjadi pemimpin, berubah lagi. Demikia juga akan berubah saat menjadi orang tua. Kehidupan bergerak. Kebutuhan juga berganti.

Kita tahu jujur itu baik, tetapi mengapa seseorang yang tahu kebaikan masih memilih kebohongan? Persis seperti pengetahuan kita, bahwa kesabaran adalah hal mulia, tetapi bukankah pengetahuan tentang sabar tidak selalu bermanfaat ketika ego kita sedang terluka.

Tak sama antara mengetahui kebaikan dan menjadi baik.

Seseorang barangkali tidak menjadi rendah hati ketika ia mampu menjelaskan tawadu’. Pengetahuan tentang rendah hati masih mungkin dimiliki oleh orang yang egonya besar. Tawadu’ baru menemukan maknanya ketika pengetahuan itu berhadapan dengan luka, terutama ketika ia direndahkan, disalahpahami, dikritik, atau tidak dihargai, tetapi ia tetap memilih untuk tidak merendahkan orang lain.

Begitu pula adab. Adab tidak pertama-tama terlihat ketika seseorang berbicara tentang adab. Ia terlihat ketika pengetahuan itu berhadapan dengan manusia lain: dengan orang yang tidak kita sukai, dengan bawahan, dengan orang miskin, dengan orang yang tidak dapat membalas kebaikan kita.

Ada ironi dalam kehidupan orang berilmu. Semakin banyak yang ia ketahui, semestinya semakin kecil jarak antara perkataan dan perbuatannya. Tetapi pengetahuan yang banyak kadang justru membuat seseorang semakin pandai menjelaskan mengapa dirinya tidak berubah.

Ilmu akhirnya bukan lagi cermin. Ia menjadi satir.

Barangkali seluruh perjalanan belajar kita setidaknya berakhir pada dua tujuan, melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Selebihnya, kondisi pengetahuan yang belum selesai berproses.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Bagikan Artikel

Komentar (0)

Minimal 2 karakter 0/1000

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!