Santri Pejuang
Beberapa waktu terakhir, kehidupan pesantren kembali menjadi perhatian publik. Sebuah kasus dugaan kekerasan terhadap santri di Lombok Tengah menjadi perbincangan dan memunculkan kembali pertanyaan lama, seperti apa sebenarnya pendidikan yang seharusnya berlangsung di pesantren? Pertanyaan itu penting, sebab pesantren bukan sekedar penitiapan anak, apalagi hanya sekedar penginapan.
Di tengah perbincangan semacam itu, penting rasanya kembali mempertanyakan, apa arti menjadi santri?
Saya kira, menjadi santri bukan sebatas mengenakan sarung dan peci, tinggal di asrama, mengikuti pengajian, atau menjalani jadwal yang telah ditentukan. Menjadi santri adalah kesediaan untuk menjalani proses. Karena itu, menjadi santri berarti bersedia ditempa. Namun, ditempa bukan berarti disakiti. Ketangguhan setidaknya diproses melalui kesulitan tanpa kehilangan akal sehat, bukan dengan kekerasan.
Di pesantren, seorang santri belajar bangun ketika masih mengantuk, mengikuti kegiatan ketika tubuh ingin beristirahat, menyelesaikan tugas ketika pikiran mulai jenuh, dan menaati aturan meskipun terkadang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia belajar bahwa hidup tidak selalu menyediakan kenyamanan. Ada tanggung jawab yang harus dilakukan, bahkan ketika hati sedang tidak bersemangat.
Ustadz saya pernah menyampaikan sebuah nasihat sederhana: “Sebagai seorang pejuang tidak boleh sakit. Badan boleh sakit, tetapi jiwa seorang pejuang harus tetap sehat.”
Nasihat tersebut sejalan dengan mahfūẓāt yang biasa dihafalkan santri, Ijhad wa lā taksal wa lā taku ghāfilan, fa-nadāmatul-‘uqbā liman yatakāsal. Artinya, “Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermalas-malasan. Jangan pula menjadi orang yang lalai, karena penyesalan di kemudian hari adalah bagi orang yang bermalas-malasan.”
Kalimat ustadz tadi dan nash mahfūẓāt itu tidak berarti seorang santri harus berpura-pura kuat setiap saat. Seorang pejuang tetap boleh lelah, boleh menangis, boleh merasa kecewa, bahkan boleh beristirahat. Yang tidak boleh adalah menjadikan rasa lelah sebagai alasan untuk bermalas-malasan apalagi sampai lalai.
Untuk mencetak mental santri pejuang itu, pondok pesantren selalu memiliki ruang untuk melatih kemampuan tersebut. Bangun tepat waktu mengajarkan disiplin. Hidup bersama teman mengajarkan kesabaran. Menghormati guru mengajarkan adab. Menyelesaikan tugas mengajarkan tanggung jawab. Sementara hidup dalam kesederhanaan mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki segala sesuatu untuk dapat merasa cukup.
Semua itu mungkin terlihat sebagai rutinitas. Namun, rutinitas semacam itulah yang perlahan membentuk karakter. Pendidikan karakter tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang. Kadang ia tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang sampai menjadi bagian dari kepribadian.
Maka, ukuran keberhasilan seorang santri tidak cukup dilihat dari seberapa banyak kitab yang telah dibaca atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh. Ilmu yang nafi’ adalah ilmu yang melahirkan makna, sikap dan membuat seorang santri bertindak secara positif.
Di sinilah makna “santri pejuang” yang sesungguhnya.
Kehidupan setelah pesantren tidak akan selalu berjalan sesuai rencana. Ada yang melanjutkan pendidikan, menjadi guru, bekerja, berdakwah, membangun usaha, atau mengabdikan dirinya dalam bidang yang lain. Di luar pesantren, ia mungkin tidak lagi memiliki jadwal yang mengatur setiap kegiatannya. Tidak selalu ada guru yang mengingatkan ketika ia lalai. Tidak selalu ada teman yang menegur ketika ia mulai salah arah.
Dalam kondisi ini, hasil pendidikan pesantren benar-benar diuji. Apakah kedisiplinan yang dahulu dijalani hanya karena takut kepada aturan, atau sudah berubah menjadi kesadaran? Apakah adab kepada guru hanya berlaku ketika berada di pesantren, atau menjadi bagian dari kepribadian? Apakah semangat belajar berhenti ketika kitab ditutup, atau terus hidup ketika menghadapi persoalan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu baiknya menjadi ukuran keberhasilan seorang santri. Karena pada akhirnya, pesantren tidak sedang mempersiapkan seseorang “mantan santri”. Pesantren sedang mempersiapkan manusia yang membawa nilai-nilai kepesantrenan ke mana pun ia pergi.
Maka, menjadi santri berarti siap berproses. Siap belajar. Siap menerima nasihat. Siap hidup disiplin. Siap meninggalkan sebagian kenyamanan untuk masa depan. Siap mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Dan yang paling penting, siap menjadi pejuang.
Bukan pejuang yang keras kepada orang lain, tetapi kuat menghadapi dirinya sendiri.
Sebab pesantren bukan tempat untuk membuat seseorang terbiasa hidup nyaman. Pesantren adalah tempat belajar agar seseorang mampu menghadapi kehidupan tanpa kehilangan ilmu, adab, dan arah. Santri pejuang bukan mereka yang tidak pernah lelah, melainkan mereka yang tidak membiarkan lelah membuatnya berhenti.
Apakah artikel ini bermanfaat?
Bagikan Artikel
Komentar (0)
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!